Dampak Pornografi Pada Anak, Sepele? Anda Salah Besar!

Di zaman yang sudah serba canggih ini, akses terhadap segala sesuatu menjadi sangat mudah. Apapun sangat mungkin bisa kita cari tahu melalui internet, bahkan oleh anak. Dikutip dari situs newzoo.com Indonesia adalah pengguna ponsel terbanyak ke-6 di dunia. Memiliki gawai/ponsel sudah seperti kebutuhan primer untuk kehidupan sehari-hari. Tetapi, dibalik itu muncul penyalahgunaan akses internet lewat gawai/ponsel yang dilakukan oleh anak. Salah satunya adalah Pornografi!

Remaja merupakan suatu tahap perkembangan manusia, yaitu rentang usia 12 – 21 tahun. Dimana pada usia tersebut, rasa ingin tahu dan energi dari remaja sangat berlebih. Salah satunya keingintahuan yang berhubungan dengan seksualitas. Dikutip dari tribunjakarta.com, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan survei yang melibatkan 1.411 responden kepada siswa. Hasilnya, sebanyak 97% siswa pernah mengakses konten pornografi.

Dari 97% siswa yang telah mengakses konten pornografi tersebut, 57% mereka akses dari internet, media sosial 34% dan game sebanyak 4%. Hal ini diperparah dengan kurangnya kontrol dan komunikasi orang tua, lingkungan pergaulan, gaya hidup/lifestyle dan kurangnya sosialisasi. Hal ini tentu patut kita jadikan perhatian bersama. Pornografi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi perkembangan anak. Kok bisa?

Pornografi bagi anak adalah candu layaknya narkoba, bahkan bisa lebih parah. Lebih-lebih secara fisik dan psikis. Pornografi mengakibatkan kerusakan otak yang serius. Dikutip dari website resmi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, kerusakan otak yang disebabkan pornografi sama dengan kerusakan otak pada orang yang mengalami kecelakaan mobil dengan kecepatan tinggi. Kerusakan otak yang diserang oleh pornografi adalah Pre Frontal Korteks (PFC)yaitu bagian otak yang penting dan hanya hanya dimiliki manusia sehingga manusia memiliki etika bila dibandingkan binatang. Bagian otak ini berfungsi untuk menata emosi, memusatkan konsentrasi, memahami dan membedakan benar dan salah, mengendalikan diri, berfikir kritis, berfikir dan berencana masa depan, membentuk kepribadian, dan berperilaku sosial.

Infografis Dampak Pornografi Bagi Remaja. (Foto: Humas RSUP Dr. Sardjito)

Awalnya saat melihat pornografi, reaksi yang ditimbulkan adalah perasaan jijik, hal ini terjadi karena manusia mempunyai sistem limbik, sistem ini pula yang mengeluarkan hormon dopamin untuk menenangkan otak, tetapi dopamin juga akan memberi rasa senang, bahagia sekaligus ketagihan. Dopamin mengalir ke arah PFC. Apabila dopamin semakin banyak maka seseorang akan timbul rasa penasaran dan semakin kecanduan melihat pornografi, namun untuk memenuhi kepuasan dan kesenangannya, seseorang akan melihat yang lebih porno / vulgar lagi untuk memicu dopamin yang lebih banyak. Karena terus dibanjiri dopamin, PFC akan semakin mengkerut dan mengecil dan lama-lama menjadi tidak aktif akibanya fungsi dari bagian otak ini semakin tidak aktif.

Hal ini juga akan mengakibatkan gambar porno yang sudah dilihat tidak akan berpengaruh lagi, karena rasa sensitifnya hilang. Kemudian, cenderung menginginkan melihat gambar yang lain yang lebih dan lebih lagi. Bahkan mendorong anak untuk melakukannya dengan nyata, tidak dengan khayalannya lagi. Karena inilah, menurut pendapat saya, sangat berbahaya sekali jika anak juga terobsesi untuk mempunyai pacar, karena kecenderungan perilakunya dalam berpacaran akan menjurus ke perilaku seksual. Hampir semua tindakan asusila, pelecehan, pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya diawali dari melihat tayangan porno. Miris!

Talkshow tentang Pacaran. (Video: Youtube – TV Pendidikan)

Akibat dari kecanduan pornografi sangat membahayakan bagi anak dan orang-orang di sekitarnya, seperti:
1. Meningkatkan eksplorasi seks remaja sehingga dapat terjadi perilaku seks bebas dan perilaku seksual beresiko
2. Mudah berbohong
3. Menurunkan harga diri dan konsep diri
4. Depresi dan kecemasan
5. Pendidikan terganggu
6. Terjadi penyimpangan seksual

Mencegah Pornografi

Pornografi seolah menjadi fenomena gunung es dan adiksi baru yang tidak tampak mata. Anak yang semula kita anggap baik-baik saja, bisa dimungkinkan secara diam-diam dalam kesehariannya mengakses konten negatif tersebut. Dan hal ini tentunya bisa kita jadikan antisipasi bersama. Untuk itu perlu diperlukan pengawasan dan pembinaan dari semua pihak, dan bagi pribadi masing-masing.

1. Menguatkan Iman dan Taqwa
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa agama memegang peranan penting dalam tindakan yang dilakukan manusia. Saya yakin, semua agama akan mengatakan bahwa melihat konten negatif seperti pornografi adalah perbuatan dosa. Walaupun tidak ada orang yang tahu, tetapi Tuhan selalu mengetahui. Maka, menguatkan iman dan taqwa adalah kunci utama dalam mencegah pornografi.

2. Membatasi Penggunaan Gawai/ Ponsel
Aturan dalam keluarga dan sekolah harus tegas, kapan diperbolehkan menggunakan gawai/ponsel dan kapan tidak. Pengawasan orangtua dan guru juga menjadi hal yang penting. Jangan biarkan anak secara bebas menggunakan gawai/ponsel saat jauh dari pantauan, misalnya di kamar sebelum tidur. Gawai/ponsel adalah barang privasi, tidak boleh dipakai begitu saja tanpa sepengetahuan pemiliknya. Tetapi bagi anak, gawai/ponsel bukanlah barang pribadi dihadapan orangtua dan guru. Maka kita harus melakukan pengecekan isi gawai/ponsel secara rutin kepada anak/siswa kita.

3. Komunikasi yang Hangat Antara Orangtua – Anak
Keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama. Komunikasi yang akrab dan hangat antara orangtua kepada anak sangat penting untuk menghindari kondisi BLAST pada anak (Boring/bosan, Lonely/kesepian, Angry/marah, Stress/tertekan, Tired/kelelahan). Sehingga, apapun problem yang dialami oleh anak, tempat mereka bercerita adalah orangtua dan guru, bukan ke oranglain atau perbuatan yang mengarah kepada hal negatif.

4. Mendorong Anak untuk Mengikuti Kegiatan yang Positif
Remaja memiliki energi berlebih, dan energi tersebut harus tersalurkan ke kegiatan-kegiatan yang positif untuk mencegah energi tersebut digunakan untuk kegiatan negatif.  Misalnya olahraga, ekstrakurikuler sekolah, karang taruna, remaja masjid dan sebagainya.

Kegiatan Olahraga dan Ekstrakurikuler untuk Menyalurkan Energi Remaja. (Foto: DIan)

5. Memilih dan Memilah Pergaulan yang Sehat
Faktor lain yang memiliki pengaruh besar adalah pergaulan. Karena remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak jarang seorang anak mengetahui konten-konten negatif tersebut karena melihat atau dilihatkan file temannya. Atau juga bisa tersebar di jejaring media sosial, yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan dilihat oleh anak. Maka, jika tergabung dalam grup-grup media sosial tersebut segeralah keluar dari grup dan hapus media yang ada. Hal ini juga diperlukan pengawasan dari orangtua.

6. Sosialisasi dan Edukasi tentang Bahaya Pornografi
Para orangtua dan guru sangat perlu mengetahui tentang bahya pornografi bagi anak, untuk kemudian bisa kita komunikasikan dan kita edukasikan ke anak. Masih banyak orangtua yang masih merasa tabu membicarakan dan memberikan edukasi tentang masalah seksual ke anak, tetapi jika pengetahuan kita cukup dan bisa mengkomunikasikan dengan baik kepada anak, maka hal tersebut akan menjadi kunci penting dalam mencegah pornografi bagi anak. Apalagi jaman yang serba canggih ini, mencari tahu tentang bahaya pornografi sangat mudah dicari di internet. Terutama para remaja, gunakanlah gawai untuk mencari tahu bahaya pornografi, bukan malah sebaliknya.

7. Tekad Diri Sendiri untuk Mengatakan STOP dan TIDAK!
Dari semua hal diatas, muara ujungnya adalah motivasi internal, diri sendiri. Bertekad dengan sekuat jiwa raga untuk menghentikan segala kegiatan yang mengarah pada konten negatif, dan asertif atau tegas mengatakan tidak kepada orang lain yang menawari atau mengirim konten-konten negatif tersebut.

Penggunaan gawai ibarat dua mata pisau. Bisa mengarah ke positif maupun negatif. Ibarat pisau, bisa digunakan positif untuk mengupas buah juga digunakan negatif untuk melukai orang. Perlu saya tekankan, yang salah bukan pisaunya atau gawai/ponselnya, tetapi penggunaannya. Gawai/ponsel bisa sangat berguna untuk media dalam proses pendidikan anak kita di sekolah, seperti di sekolah kita tercinta SMP Negeri 10 Surabaya yang telah menggunakan Microsoft Office 365 pada pembelajaran sehari-hari. Tetapi, akses dan kepemilikan konten-konten negatif perlu kita hindari dan perangi bersama, baik orangtua, guru dan siswa.

Mari Bersama Jaga Generasi Muda Pembaharu Bangsa dari Ancaman Jeratan Pornografi!

Baca juga: “Tim Dispendik, Bidang Kesra Pemkot, DP5A, Satpol PP dan Diskominfo Lakukan Antisipasi Gangster dan Konten Negatif di SMPN 10 Surabaya

Referensi Rujukan
1. https://newzoo.com/insights/rankings/top-countries-by-smartphone-penetration-and-users/
2. https://jakarta.tribunnews.com/2019/03/12/survei-kemenkes-97-persen-anak-smp-dan-sma-sudah-mengakses-konten-pornografi
3. https://sardjito.co.id/2019/10/30/dampak-pornografi-bagi-kesehatan-pada-remaja-apakah-berbahaya/

Penulis : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*