Hikmah COVID-19

Dunia dihebohkan dengan virus Corona (Covid-19). Hampir semua lalu-lalang berita di media massa, baik online, cetak maupun elektronik membahas virus Corona ini. Tidak terkecuali pula di media sosial, sangat gaduh. Bahkan pembicaraan itu tidak terlepas pula di dusun-dusun, warung kopi, kantor-kantor dan di masjid sebelum khutbah berlangsung (yang pada akhirnya semua aktifitas berkumpulnya orang tersebut dibatasi, bahkan dilarang).

Covid-19 menyebabkan perekonomian negara dan masyarakat luluh-lantak. Tidak hanya itu, hampir semua sektor terkena imbas dari mewabahnya Covid-19 ini. Mulai dari pariwisata, transportasi, sosial, keagamaan, pendidikan dan sebagainya. Di sektor pendidikan, pembelajaran tatap muka di kelas beralih ke pembelajaran dalam jaringan atau daring (online) di rumah masing-masing. Tetapi, dari itu semua kita harus bisa mengambil hikmah dari adanya Covid-19 ini.

Baca juga:

SMP Negeri 10 Surabaya Optimalkan Pembelajaran Daring

Apakah hikmah itu? Jika diartikan secara harfiah, hikmah adalah kebijaksanaan atau kearifan. Ibnu Rusyd, salah seorang intelektual Islam abad ke-12 mengatakan, hikmah adalah suatu kebijaksanaan yang lahir karena seseorang bertindak sesuai dengan ilmunya, dan dengan cara yang tepat, sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain, hikmah adalah kemampuan dan usaha kita untuk berakhlak dan bertindak sedekat mungkin dengan maksud yang Tuhan inginkan.

Ketajaman dalam mengambil hikmah dari setiap kejadian menjadi hal yang sangat penting. Allah telah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 269 yang bisa kita tadabburi bahwa hikmah adalah karunia yang luar biasa.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Baca juga:

Wahai Kaum Mager dan Rebahan, Bangkitlah!

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HRTirmidzi). Maka, hikmah adalah hal yang sangat penting dan bahkan bisa bisa kita ambil di mana saja, salah satunya pada sesuatu yang kita anggap musibah.

Kebanyakan orang mungkin sepakat bahwa wabah Covid-19 yang membuat panik dan takut ini mereka anggap musibah, bencana, pandemi, atau pageblug. Boleh-boleh saja. Tetapi, jika kita hanya berhenti pada anggapan itu, tanpa bisa belajar memaknai dan mengambil hikmah dibalik semua ini, maka kita akan semakin terpuruk.

Berikut beberapa hikmah yang bisa kita ambil dan kita renungkan dari Covid-19 :

1. Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan Kepada Tuhan
Ketika virus Covid-19 ini membanjiri dunia, juga Indonesia, sebagian besar manusia sepertinya belum banyak menyadari, betapa kita semua kerdil di genggaman kebesaran-Nya. Semua informasi yang beredar hanya bising pemberitaan, minim muhasabah kepada Allah. Manusia sangat takut dengan pemberitaan media tentang wabah Coronavirus, tetapi (mungkin) amat sedikit yang takut terhadap pemberitaan Allah di Al-Qur’an tentang dahsyatnya Neraka. Sampai detik ini, orang yang terinfeksi virus Covid-19 ini terus bertambah. Pengobatan secanggih apapun belum mampu menemukan vaksin Covid-19. Lantas, kepada siapakah kita berlindung? Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Allah Rabbul ‘Alam dan kelembutan syafa’at Nur Muhammad SAW.

2. Keangkuhan dan Keserakahan Tumbang oleh Makhluk Ultra Kecil
Di jaman modern ini, banyak yang menyangka harta benda dan kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Kebanyakan, orang hanya mengejar kekayaan dan kekuasaan berlebih sehingga bersifat angkuh, seperti Fir’aun tetapi melupakan Tuhan. Bahkan mungkin menganggap dirinya Tuhan karena memakai ‘pakaian’ yang hanya boleh digunakan Tuhan: Angkuh. Tapi saat ini kita harus mulai sadar, bukanlah rudal-rudal raksasa, pesawat tempur Supersonic, atau teknologi robot canggih yang menumbangkan semua sifat-sifat itu. Tetapi makhluk yang sangat-sangat kecil, Coronavirus. Itu baru makhluk super-mikro yang tidak terlihat mata dan ternyata tidak bisa diremehkan. Bagaimana dengan dzat Maha Besar yang juga tidak terlihat mata jasad? Apakah juga akan kita sepelekan?

Baca juga:

Review Video: Pacaran Boleh??

3. Betapa Nikmatnya Kesehatan
Ketika kita sakit, semua kesombongan, kekayaan, dan kepintaran yang kita miliki seolah tak ada guna. Yang kita inginkan hanya satu, yaitu bisa beraktifitas serta beribadah kembali dengan sehat. Sehat adalah nikmat Allah yang sangat besar. Namun seringkali kita lalai dan kurang mensyukuri nikmat agung tersebut. Banyak waktu yang kita sia-siakan. Kanjeng Nabi Muhammad juga telah mengingatkan kita untuk memanfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara. Diantaranya adalah manfaatkan sehat sebelum sakitmu. Semoga kita selalu mensyukuri semua nikmat Allah dan menjaga kesehatan kita dengan beribadah dan beraktifitas yang bermanfaat.

4. Mengingatkan Untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian
Setelah Covid-19 ini mencuat, kampanye mengenai cuci tangan menjadi sangat deras. Berbagai fasilitas umum seperti sekolah, stasiun, bank, kantor-kantor pemerintahan menyediakan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer. Para pemuka agama juga menyerukan untuk tetap menjaga wudhu’, untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Hal ini untuk mematikan virus dan bakteri yang mungkin menempel pada tubuh kita. Ternyata, Covid-19 mengingatkan kembali kepada kita untuk menjaga kebersihan, dan kesucian.

5. Belajar Bersama Keluarga
Covid-19 ‘memaksa’ dunia pendidikan untuk memindahakn kelas-kelasnya ke rumah masing-masing. Siswa diberikan jam belajar di rumah dengan metode dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi belajar online yang disediakan oleh sekolah, Dinas Pendidikan dan Kemendikbud. Guru juga diberikan kebijakan Work From Home (WFH) walaupun di Surabaya belum berlaku penuh. Hikmah yang bisa diambil adalah, para orangtua bisa mendampingi belajar putra-putrinya secara langsung. Sangat banyak waktu yang bisa diberikan orangtua kepada anak, dan harapannya para orangtua juga semakin mengerti dan menghargai peran seorang guru di sekolah.

Baca juga:

Lintang Ayu Prameswari: Remaja Harus Bijak Menggunakan Gawai dan Media Sosial

6. Terpaksa’ untuk Melek Teknologi
Kata terpaksa disini saya beri tanda petik, berarti mengandung makna konotatif. Artinya, dengan pembelajaran dilakukan di rumah saat ini, kita mau tidak mau harus paham lebih mendalam mengenai perkembangan teknologi yang digunakan di pendidikan. Ambil contoh di Surabaya, kita harus mengenal dan mengoperasikan Microsoft Office 365, Quizziz, foto presensi dengan Geotag, Ruang Guru dan e-Learning milik sekolah sendiri. Para orangtua yang mendampingi belajar anaknya pun juga pasti akan bersentuhan dengan aplikasi-aplikasi tersebut. Walaupun pada awalnya terasa ribet, tetapi perkembangan teknologi harus kita kuasai, dan itu adalah suatu keniscayaan di era Revolusi 4.0 ini.

Rekan guru di Surabaya di tengah darurat Covid-19. (Foto: SDN Putat Gede 1/94 – Instagram)

Nah, sobat pembaca setia website SMP Negeri 10, demikian hikmah-hikmah yang bisa saya bagikan kepada kita semua, khususnya kepada penulis sendiri. Semoga wabah Covid-19 ini cepat berlalu dan semoga kita bisa mengambil hikmah pada setiap hal yang kita alami.

Ijinkan saya tutup artikel ini dengan mengutip syair dari Mbah Emha Ainun Nadjib:

Duh Gusti Allah, adakah sisa kasih sayang-Mu
Celaka hamba, durhaka hamba tidak terkira
Dimanakah hamba sembunyi dari murka-Mu
Selain dalam tak terbatasnya cinta kasih-Mu

Duh Gusti
Mugi Paringa ing margi kaleresan
Kados Margine menungsa kang manggih kanikmatan
Sanes margine menungsa kang padhuka laknati

Penulis : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*