New Normal Bidang Pendidikan, Perlu Peran Besar Orangtua

Covid-19 (Corona Virus Disease 2019), memang telah berakibat luar biasa. Dunia pendidikan pun terkena imbasnya. School from Home, sekolah dari rumah dengan metode daring (dalam jaringan) atau pembelajaran online menjadi cara (paling tidak pada masa darurat Covid-19 selama kurang lebih 3 bulan ini) dalam menjalankan pendidikan bagi peserta didik dan guru. Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah: “Sampai kapan daring dan School from Home Ini akan dijalankan?”

Sempat beredar isu sekolah akan mulai masuk bukan Juli 2020, namun Mendikbud Nadiem Makarim sebagai pucuk kebijakan pendidikan belum mengeluarkan kepastian tentang masuk sekolah atau tetap belajar dari rumah di Tahun Ajaran Baru 2020-2021. Mengutip dari berbagai berita online nasional, dalam teleconference rapat kerja dengan komisi X DPR RI pada Rabu (20/05/2020), Mas Menteri mengatakan bahwa keputusan jadwal masuk sekolah bergantung pada pertimbangan tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19, dan Kemendikbud sudah siap dengan semua skenario (masuk sekolah, tetap dengan daring atau mengubah tahun ajaran baru di bulan Januari 2021).

Wacana baru di dunia menghadapi pandemi Covid-19 ini digulirkan. The New Normal, atau kondisi Normal yang baru, yaitu kondisi dimana masyarakat harus menjalani pola hidup dan tatanan yang baru dalam aktivitas normal sehari-hari dengan melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, rajin mencuci tangan, physical distancing dan lain sebagainya. Bagaimana dengan pendidikan? Apakah juga akan dilaksanakan New Normal pendidikan yaitu masuk ke sekolah seperti biasa dengan menjalankan protokol kesehatan seperti disebutkan diatas? Ataukah tetap dilaksanakan School from Home dengan metode daring?

Baca juga:

Surat Kepada Menteri Pendidikan: Sambut Kemenangan Kreativitas Pembelajaran Teknologi di Idul Fitri Menuju Merdeka Belajar

Beberapa daerah juga sudah menyiapkan ancang-ancang. Tentunya semua masih persiapan dan masih perlu banyak kajian, terutama dalam menerapkan protokol kesehatan, perkembangan kondisi paparan Covid-19 dan juga keputusan Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Seperti di Jakarta mewacanakan masuk Tahun Ajaran baru pada 13 Juli 2020. Sedangkan dari Dinas Pendidikan Jawa Timur mencanangkan masuk pada 14 Juni 2020. Begitu juga daerah-daerah lain yang telah menyiapkan “tanggal main” mendahului kebijakan pusat. Hal ini memang menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah dalam memutuskan kebijakan, apakah pemerintah berarti kurang cepat dan tegas dalam mengambil keputusan? Mari kita anggap hal tersebut sebagai kehati-hatian.

Pembelajaran di rumah dengan menggunakan sistem daring memang menjadi solusi di tengah keadaan yang terjadi, dan itu bisa dilakukan jika siswa mempunyai ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Beberapa evaluasi mengenai sistem daring dalam pembelajaran dari rumah ini adalah mengenai kemampuan ketersediaan paket data internet, siswa yang tidak mempunyai gawai, belum terbiasa menggunakan aplikasi pembelajaran online karena dilakukan sangat mendadak dan tentunya yang paling penting: peran serta dan kepedulian orangtua.

Siswa SMPN 10 Surabaya mengerjakan tugas pembiasaan menggunakan hand sanitizer. (Foto: Instagram – @wajah_spenlusa)

Mengapa orangtua perlu mengambil peran yang lebih besar dalam pembelajaran daring ini? Kita perlu mengingat kembali ajaran dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara mengenai “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu pendidikan yang diterima siswa dari tiga lingkungan: keluarga, sekolah dan masyarakat. Peran orangtua berada pada lingkungan keluarga dan sebenarnya disitulah pendidikan yang paling utama. Seorang penyair masyhur, Hafiz Ibrahim mengungkapkan “Al-Umm Madrasatul ‘Ula”, Ibu (dalam hal ini adalah orangtua) adalah sekolah pertama bagi anaknya. Segala sesuatu dari anak berawal dari keluarga, dari orangtua. Apalagi jika pembelajaran dilakukan di rumah atau jika nanti pemerintah memberikan keputusan kebijakan pembelajaran kembali dilakukan di sekolah dengan pagar protokol kesehatan dan siswa masuk dengan sistem shift untuk physical distancing, atau Tahun Ajaran baru diundur hingga Januari 2021.

Jika sekolah tetap dilanjutkan dengan daring di rumah, maka peran orangtua bekerjasama dengan guru harus memastikan anak melaksanakan tugas atau mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh guru. Syukur-syukur orangtua juga mendampingi anaknya belajar. Jika pada waktu pagi orangtua bekerja, maka kontrol belajar tersebut bisa dilakukan via chatting message, video call atau telepon kepada anaknya. Bayangkan jika kontrol itu hanya dilakukan oleh guru saja, guru harus menghubungi satu persatu siswa yang sedang diajarnya. Tentu hal tersebut sangat melelahkan dan membutuhkan waktu yang banyak. Apabila ada kerjasama yang bagus antara orangtua, guru dan siswa maka pembelajaran daring di rumah akan bisa berjalan dengan baik.

Dan jika pemerintah nantinya mengambil kebijakan masuk sekolah dengan protokol kesehatan, kemungkinan jam pelajaran di kelas akan lebih singkat dan siswa lebih banyak waktu dirumah, sekali lagi bersama keluarga. Bagaimana orangtua harus menyiapkan masker sekaligus memastikan kebersihannya. Mungkin juga membekali dengan handsanitizer dan berangkat sekolah sudah dalam keadaan mencuci tangan dengan sabun, dan wudhu bagi yang beragama islam. Disisi lain, guru juga mengontrol aktifitas fisik siswa di kelas, dengan jumlah anak yang harus dikontrol lebih banyak dibanding dengan anak yang dikontrol oleh orangtua di rumah.

Baca juga:

Teknologi Adalah Penunjang, Bukan Pengganti Guru (Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2020)

Hal -hal tersebut bukan berarti guru mengalihkan tanggung jawab kepada orangtua, tetapi ini adalah tentang kerjasama, sinergitas antara guru dan orangtua. Masih banyak ditemui para orangtua seperti hanya memasrahkan anaknya ke sekolah, pasrah bongkok’an, dan menjadikan sekolah hanya menjadi tempat “penitipan anak” selama orangtua bekerja, lalu mengambilnya kembali ketika sudah pulang bekerja. Juga jamak kita dengar, argumen orangtua yang sibuk bekerja tersebut adalah mencari uang untuk anaknya, tetapi sedikit banyak abai dalam memberikan perhatian untuk pendidikan anaknya. Hal ini senada dengan sahabat saya, Eka Erawati, dalam bukunya “Sekolah Bukan Loundry” yang juga mengkritisi sikap para orangtua yang menjadikan sekolah sebagai tempat anaknya yang belum baik, belum pintar, lalu ketika diambil pulang orangtua sudah tahu beres saja.

Guru yang utama adalah orangtua dan keluarga sebagai Madrasatul ‘Ula. Ibaratnya, peran guru di sekolah adalah asisten guru yang utama, yaitu para orangtua. Sementara itu, para guru juga harus bersiap merancang desain pembelajaran daring di rumah dan atau masuk sekolah dengan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19. The New Normal pendidikan sepertinya mau tidak mau akan menjadi keniscayaan. Semoga pemerintah segera bisa mengendalikan persebaran paparan Covid-19 serta merumuskan kebijakan yang pas untuk tetap memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik sekaligus menjawab pertanyaan tentang efektivitas pembelajaran daring yang telah tiga bulan terlaksana dan kekhawatiran masyarakat jika siswa harus masuk kembali ke sekolah dengan protokol kesehatan.

Baca juga:

“SMP Negeri 10 Surabaya Optimalkan Pembelajaran Daring

Penulis : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*