Live Talkshow “SPENLUSA Inspiration” Seri 3, Alumni Berprestasi dan Nasionalisme

Program Live Talkshow “SPENLUSA Inspiration” kembali tayang pada Jum’at (13/8/2021). Program rutin dua minggu sekali ini telah berjalan 3 seri. Mengambil judul “Jurus Pemuda dalam Nasionalisme”, acara yang dipandu Host Nazilatul Maghfirah, S.Pd., Gr. ini menghadirkan bintang tamu siswa alumni SMP Negeri 10 Surabaya yang berprestasi dalam cabang olahraga beladiri. Mereka adalah Tegar Adit Dwi Saputra (peraih emas Wushu Porprov Jatim 2019) dan Dimas Ananda (peraih emas Walikota Cup Tarung Drajat 2018). Prestasi-prestasi tersebut mereka raih ketika masih menjadi siswa SMP Negeri 10 Surabaya.

Acara yang mempunyai jargon “Inspirasinya Arek-Arek Masa Kini” ini bertepatan dengan momen kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Setting panggung dan outfit Host pun tak luput dari pernak-pernik merah putih. Acara dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Dimas menceritakan sedikit latar belakang terbentuknya Tarung Drajat. Sang Guru, Aa Boxer (Achmad Dradjat) mengembangkan bela diri Tarung Drajat dari jalanan.

“Beliau (Aa Boxer) di jalanan, ngamen gitu untuk kehidupan sehari-hari. Terus beliau sering dipalak preman. Lalu mengembangkan bela diri sendiri untuk melindungi diri. Oleh Sang Guru, bela diri ini dibawa ke jenjang matras biar aman dan biar tidak disalahgunakan”, ujar Dimas.

Berbeda dengan Wushu. Menurut Tegar, Wushu adalah bela diri kungfu tetapi lebih mengarah ke modern. Mengedepankan seni gerakan dan pikiran, serta pernafasan.

Wu artinya bertarung, dan Shu itu artinya seni. Jadi Wushu itu seni bertarung. Wushu dan Kungfu itu sebenarnya sama, tapi beda peradaban saja”, kata Tegar yang menekuni Wushu dari kelas 6 SD ini.

Baca juga:

Live Talkshow “SPENLUSA Inspiration” Seri 2, Bahas Pentingnya Organisasi

Bu Nazila selaku Host menanyakan kepada kedua bintang tamu, dari sekian banyak cabang beladiri, kenapa memilih Tarung Drajat dan Wushu, Dimas dan Tegar menuturkan jawabannya yang mencerminkan nasionalisme. Dimas mengungkapkan bahwa ingin mengangkat seni beladiri asli Indonesia. Sedangkan Tegar, walaupun Wushu bukan asli dari Indonesia, melainkan dari China, tapi Tegar ingin mengharumkan nama daerah dan Indonesia lewat cabang olahraga Wushu. Lalu keduanya menceritakan prestasi-prestasi yang pernah diperoleh.

“Medali emas ini dari even Walikota Surabaya, Walikota Malang, yang dirumah juga dari Walikota Surabaya”, ucap Dimas.

“Yang dulu masih di SMP 10 kelas 8 ikut Open Internasional di Bali, dapat 2 emas. Pas kelas 9 itu ikut Porprov Jatim”, ucap Tegar disambut tepuk tangan meriah.

Lalu ketika ditanya, apa arti nasionalisme bagi seorang pemuda dan atlet, mereka berdua kompak menjawab bahwa ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga. Hal itu merupakan wujud kecintaan kepada tanah air Indonesia dan daerah. Terutama Tegar yang sudah pernah meraih juara dan medali emas dalam even internasional. Dan juga mengharumkan nama almamater tercinta. Target mereka berdua selanjutnya adalah ajang Porprov, PON dan ingin bisa menembus SEA Games.

Prestasi di bidang olahraga ini menurut Tegar dan Dimas juga bisa digunakan untuk masuk pendidikan lanjutan jalur prestasi, bahkan ke dunia kerja. Tegar misalnya, masuk SMA Muhammadiyah 2 Surabaya melalui jalur prestasi dan menjadi ikon sekolah. Sedangkan Dimas berhasil masuk SMKN 5 Surabaya. Bu Nazila juga menceritakan keponakannya yang masuk tes ke TNI melalui jalur atlet. Hal ini tentunya juga menjadi motivasi untuk siswa-siswi SMP Negeri 10 Surabaya untuk mengikuti jejak seniornya yang berprestasi.

“Harus semangat, jangan malas. Tidak semua bidang kalian harus bisa. Satu aja cukup tapi harus tekun. Kalian kan di SMP Negeri 10, jangan lupa membanggakan almamater”, tutup Tegar memberikan motivasi kepada siswa SPENLUSA.

Baca juga:

Launching “SPENLUSA Inspiration”, Kepala SMPN 10 Surabaya Berikan Inspirasi Arek-Arek Masa Kini

Tonton video selengkapnya:

(Humas)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*