“Oh My Brush Pen”

“Diraaa…..”
Suara Kakak membuatku kaget. Aku segera berlari mencari sumber suara. Ternyata di teras rumah, Kak Icha dan Ibu sedang berbincang dengan Tante Indah yang tinggal di blok F.
“Dira, kamu tau Almira anaknya Tante Indah, kan?” Kak Icha bertanya kepadaku.
Aku mengangguk dan memberi salam, “Assalamualaikum, Tante”
“Almira juga keterima di sekolahmu loh, Dira.” Ibu menceritakan.

Sudah sepekan aku berstatus sebagai murid di sekolah baruku, tapi aku baru tahu kalo Almira, sahabat kecilku, juga bersekolah di tempat yang sama denganku. Aku terkejut dan senang karena bisa belajar di satu sekolah dengannya. Tapi sayangnya, ekspresi bahagiaku ini tidak nampak karena kami semua kini memakai masker, bahkan saat sedang berbicara.

Ah, seandainya nggak ada pandemi ini, aku pasti sudah ketemu Almira di sekolah sejak awal masuk.” gumamku.

Ini Hari Minggu, dan pagi ini udara sangat dingin akibat hujan semalam. Aku sedang duduk di kursi belajar dan aku merasa sangat bosan. Hari libur yang biasanya membuatku sangat bersemangat, kini justru membuatku melamun.

“Aku harus ngapain lagi ya..” 

Tak terasa sudah 30 menit aku hanya menggeser ke atas laman di layar ponselku. Aku menutup aplikasi itu, lalu mengunci ponselku. Pandanganku kini beralih ke spidol warna-warni di sebelah lampu belajarku, oh, tapi spidol itu bukan spidol biasa. Badan spidol itu itu panjang dan memiliki dua tip, yang satu tip panjang seperti brush cat, sehingga spidol ini diberi nama ‘brush pen’, dan satu tip lagi pendek seperti spidol biasa.

Baca juga:

“Record of My Youth (Twenty-Twenty)”

Dua hari ini aku mulai bermain lagi dengan brush pen. Aku mengisi waktuku dengan membuat catatan menggunakan brush pen itu. Hasil akhirnya lumayan memuaskan, cukup indah tapi terlalu masih terlalu sepi. Aku bingung harus menambahkan apalagi, sedangkan yang aku punya saat ini hanya brush pen saja. Aku berpikir sebentar, lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di pikiranku.

“Gimana kalo aku tambahin gambar-gambar aja, ya?” pikirku. aku pun langsung menggambar menggunakan tip spidol di ujung brush pen itu. Tiga puluh menit berlalu, tapi aku masih fokus menggambar di catatan yang tadi ku buat.

“Tinggal gambar di bagian sini dan selesaaii!” seruku.

Akhirnya  aku menyelesaikannya dalam waktu satu jam. Setelah membuat catatan itu aku langsung membuat videonya. Satu jam lagi terlewati, namun aku masih saja fokus mengedit video catatanku. Setelah selesai mengunggah video tersebut, ternyata aku tidak berhenti. Dua jam kemudian aku masih fokus melihat aplikasi yang sedang viral itu. Aku berharap akan mendapatkan banyak viewers dan likes. Namun, sudah lewat tiga jam videoku terunggah, masih belum ada yang memberikan like. Viewers videoku juga masih berhenti di angka 50 orang.

Aku menghela napas, lalu meletakkan ponselku. Aku berniat keluar kamar untuk mengambil segelas air putih. Ternyata hari sudah gelap. Aku menyalakan lampu kamar dan melihat Kak Icha sedang sibuk memasak di dapur.

“Ibu dimana kak? tanyaku sambil menuang air.
“Di depan, lagi urus tanaman kayaknya. Kenapa Dek?” kata Kak Icha sambil mengiris wortel.
Nggak kok.. Nanya aja..” jawabku singkat sembari jalan kembali ke kamar.

Keesokan harinya, aku terkejut bukan main saat melihat video pertamaku mendapatkan 10.000 likes dan jumlah pengikut aplikasiku bertambah menjadi 1.000 followers. Dari sini semangatku untuk membuat dan mengunggah video catatan semakin meningkat. Setiap hari aku menghabiskan waktu tiga hingga lima jam untuk membuat dan mengunggah video catatanku. Aku sangat tertarik dengannya hingga aku lupa bahwa minggu depan adalah jadwal ujian tengah semester, dan aku belum mempersiapkannya.

Baca juga:

“Pemalas Berujung Kesadaran Diri”

Dua minggu berselang, hasil ujian pun dibagikan. Aku sangat kecewa dan menyesal melihat nilaiku sendiri.
“Ibu pasti sedih.. Ibu pasti kecewa padaku..” tidak terasa air mataku menetes.

Sejak saat itu, aku bertekad untuk memperbaiki diri dan mulai menata waktu belajar dan ibadahku lagi. Aku tidak ingin membuat Ibuku sedih dan kecewa.

“Dira udah nggak bikin video lagi?” tanya Ibu saat masuk ke kamarku.
“Kok rasanya Ibu sudah lama nggak lihat Dira nulis dan buat video lagi?” Ibu duduk di sampingku sembari membuka buku catatanku yang Ibu beli untukku.
“Masih kok, Bu, tapi jarang.. Tiga minggu sekali mungkin..” jawabku lirih.
“Lho, kenapa? Kan Dira senang melakukannya…” Ibu terlihat cemas.
“Nilai ujian Dira kurang bagus, Bu.. Dira mau memperbaikinya” Aku menduduk.
“Sayang.. Terimakasih ya Dira sudah belajar dari kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya..” Ibu memelukku dengan hangat.

“Dira.. Kakak punya ide. Gimana kalo Dira membuat kontennya seminggu sekali, tapi sekaligus beberapa video. Nah, nanti tinggal unggah saja tiap hari atau sesuai jadwal yang Dira mau. Untuk beberapa aplikasi malah ada yang bisa diatur jadwal unggahnya kok, Dir.” Kakak yang sudah lebih dulu bermain aplikasi ini tiba-tiba masuk ke kamarku dan mengajariku caranya.

“Tapi Dira harus tetap belajar bagi waktu dan tetap harus fokus belajar ya..Sebentar lagi kan Dira ada Ujian Akhir.” Ibu mengingatkanku.

Aku mengikuti saran dan cara yang diberikan Kak Icha dengan membuat konten secara sekaligus di hari libur, lalu membuat jadwal untuk mengunggahnya. Dengan demikian jadwal belajar dan ibadahku tidak terganggu.

Seminggu setelah ujian, hasil dibagikan. Aku sangat senang karena hasil ujianku kali ini tidak mengecewakan. Ibu dan Kak Icha memberikanku hadiah satu set brush pen baru dengan warna yang berbeda dan beberapa stiker lucu untuk menghias catatanku.

“Dira boleh kok melanjutkan hobi yang Dira suka.. Asalkan Dira bisa bertanggung jawab dengan tetap menjaga nilai sekolah Dira ya…”
Aku tersenyum lebar… “Ahhh makasih yaa Ibu dan Kak Icha..”

Pandemi ini bukan menjadi penghalang untuk kita berkreasi dan menjadi produktif. Di rumah saja bukan berarti kita bisa bermalas-malasan, justru dengan di rumah saja merupakan waktu yang pas untuk kita belajar banyak hal baru, seperti Ibu dengan tanamannya, Kak Icha dengan masakannya dan aku dengan brush pen ini.

Surabaya, 14 Februari 2021

_______________________________________________________________________

Tentang Penulis

Awrilutsania Hamidya, yang lebih akrab dipanggil Tsani ini lahir di Surabaya, 7 April 2008. Ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun sudah memiliki ketertarikan di dunia sastra. Saat ini ia kerap menulis di platform “wattpad”, dan mengikuti beberapa ajang menulis sebagai batu loncatan dan wadah pembelajarannya.

Saat ini ia sedang menempuh sekolahnya di SMP Negeri 10 Surabaya. Ia dapat kita kunjungi melalui media sosial instagram @awtsani_ dan email awrilutsania@gmail.com

Penulis : Awrilutsania Hamidya (7-C)/ @awtsani_
Editor : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*